Pandemi Covid-19 : Inden ke Masjid, Hingga Gagal Halal bi Halal

 276 total views

Webinar disiarkan secara langsung di channel youtube Univeritas Jember

 

PAMORENEWS – JEMBER – Bulan  Ramadhan selalu menjadi bulan istimewa bagi setiap muslim, dimana pun dia berada. Termasuk bagi dosen dan alumnus Universitas Jember yang kebetulan menjalani puasa di negeri seberang. Tentu saja kerinduan akan tanah air beserta pernak pernik Ramadhan di tanah air makin menjadi di kala pandemi Covid-19 tengah melanda dunia. Sebab ada banyak hal yang kini tidak bisa leluasa dilakukan, semisal buka puasa bersama,tarawih dan kegiatan sosial lainnya. Untuk mengetahui pengalaman dosen dan anggota Keluarga Alumni Universitas Jember (Kauje) yang tengah berpuasa di tanah seberang, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) universitas Jember bekerja sama dengan Kauje menggelar webinar bertema Ramadhan di Negeri Seberang yang digelar Sabtu malam lalu (16/5/2020).

 

“Di Jerman secara umum penanganan pandemi Covid-19 berjalan sukses sehingga warga sudah diperbolehkan melakukan aktivitas sosial dengan syarat tetap menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah Jerman. Kami pun di kota Gottingen sudah bisa ke masjid, tapi syaratnya harus inden dulu, jadi setiap muslim yang ingin beribadah di masjid At Taqwa Gottingen mendaftarkan diri ke takmir masjid. Sebab jumlah jamaah dibatasi hanya 60 orang saja, akibatnya untuk sholat Jumat terpaksa dibagi menjadi empat shift. Tentu saja perkembangan ini kami syukuri,” jelas Fuad Bahrul Ulum, dosen Program Studi Biologi FMIPA yang tengah menjalani studi doktoral di Universitas Gottingen Jerman.

 

Baca juga: Sebanyak 4.031 Mahasiswa Universitas Jember Ikuti Kuliah Bersama Secara Daring

 

“Biasanya ada acara buka puasa bersama dimana setiap komunitas muslim di Gottingen berkumpul sambil membawa masakan khas negaranya masing-masing, begitu pula saat Idul Fitri yang menjadi saat muslim Gottingen berkumpul bersama. Acara-acara ini yang kami rindukan sebab bisa menjadi obat kangen Ramadhan di tanah air,” ujar Fuad yang tahun depan bakal balik ke Jember.

 

Perasaan kehilangan suasana khas Ramadhan juga disampaikan oleh Muhammad Khusnu, atase perhubungan KJRI di Den Haag, Belanda. Alumnus Program Studi Hubungan Internasional FISIP ini menuturkan jika KJRI di Den Haag sudah menetapkan kegiatan halal bi halal yang rutin diadakan dengan sangat terpaksa tahun ini ditiadakan, walaupun sebenarnya jumlah penderita Covid-19 di negeri kincir angin ini sudah menurun drastis.

 

“Padahal kegiatan halal bi halal menjadi salah satu momen silaturahmi warga Indonesia di Belanda mengingat jumlahnya cukup besar, untuk diaspora Indonesia di Belanda saja sejumlah 1,7 juta jiwa,” tuturnya.

 

Menurut Khusnu, KJRI Den Haag saat ini fokus memberikan bantuan kepada WNI yang ada di Belanda yang terdampak Covid-19, termasuk mengirimkan bantuan penanganan Covid-19 ke tanah air.

 

“Yah jelas kangen suasana Ramadhan, terutama Ramadhan di tanah air. Setiap kali jam sudah menunjukkan jam enam petang maka otomatis yang terbayang di benak saya yah kolak dan masakan takjil lainnya, padahal waktu buka puasa di Belanda masih nanti jam sembilan malam, hahahaha,” celetuk Khusnu yang harus berpuasa selama 17 jam ini.

 

Pengalaman senada disampaikan juga oleh dosen FKIP yang tengah studi doktoral di Taipei, Taiwan, Bevo Wahono. Menurutnya puasa di Taiwan tak terlalu susah, mengingat negara ini sudah ramah bagi muslim.

 

Baca juga: UNEJ Mampu Layani 3000 Mahasiswanya Tiap Perkuliahan Daring

 

“Sudah banyak masjid dan musholla di fasilitas umum, mall dan lokasi wisata sehingga tidak ada kesulitan bagi kami menjalani puasa. Apalagi jumlah muslim di Taiwan cukup besar termasuk banyak tenaga kerja dari Indonesia. Makanan khas Indonesia pun bisa mudah didapat,” katanya.

 

Kegiatan webinar diapresiasi oleh Iwan Taruna, Rektor Universitas Jember. Menurutnya selain mendapatkan pengalaman dan kisah menarik, webinar ini membuktikan bahwa alumnus Kampus Tegalboto sudah banyak berkiprah, bahkan hingga di luar negeri. Sementara itu menurut Sarmuji, Ketua Umum Kauje, webinar yang diadakan ingin mengetahui bagaimana pengalaman anggota Kauje yang menjalani Ramadhan di luar negeri, khususnya saat pandemi Covid-19 melanda.

 

“Tentu ada pelajaran yang bisa dipetik yang siapa tahu bisa kita rumuskan sebagai sumbangan dari Universitas Jember dan Kauje dalam menghadapi pandemi Covid-19,” pungkas anggota DPR RI ini.

 

 

Reporter  : Isriadi

Editor : Lukman

Post Author: Publisher

3 thoughts on “Pandemi Covid-19 : Inden ke Masjid, Hingga Gagal Halal bi Halal

Komentar ditutup.